Senin, 26 November 2012

FF SHINee

I Hate Biology, But I Like You 
Main Cast : Lee Taemin, Hwang Jiyeon (Author ^^) 
Other cast : Park Minhyo (Ree unnie), Choi Minho

Aku melirik Minhyo yang sedang asik bicara dengan pacarnya, Minho. Mereka baru saja jadi pasangan resmi beberapa hari yang lalu, dan sejak saat itu, sepertinya pikiran Minhyo didominasi oleh Minho. Bukannya aku sirik, tapi entah kenapa aku merasa kehilangan sahabatku. Biasanya kami selalu berbagi cerita, apa saja, pada jam makan siang. Tapi sekarang aku harus rela berbagi dengan Minho. Aku mengetukkan jariku ke meja, memandangi keduanya dengan tatapan sebal. Tapi orang yang sedang aku pandangi itu sama sekali tidak menyadarinya. Jariku berhenti mengetuk. Ada orang lain yang sedang memperhatikan aku. Aku menoleh ke sosok yang duduk di depanku, dan yang saat itu jelas-jelas sedang memperhatikan aku. “Mwo?” tanyaku pada orang itu. Dia hanya tersenyum hingga matanya berbentuk seperti bulan sabit. Sebenarnya, senyumnya itu manis sekali. “Aniya… Aku hanya heran kenapa wajahmu kelihatan seperti itu…” kata orang itu. “Memangnya kenapa wajahku?” tanyaku, mengeluarkan cermin kecil yang selalu aku bawa, sekedar berjaga-jaga kalau-kalau aku bertemu dengan pangeran impianku kelak :p. “Kelihatan seperti ini…” kata orang itu, Lee Taemin. Ia mengarahkan kedua telunjuknya ke dahinya dan mengerutkan dahinya, seperti orang yang sedang berpikir keras. Aku menahan tawa. Apa wajahku memang sekonyol itu?
“Kalau seperti itu kelihatan lebih bagus…” kata Taemin, tersenyum. “Kau ini cerewet… Sejak kapan kau jadi banyak bicara?” tanyaku. “Sejak Minho-hyung dan Minhyo-noona bersama… Kalau aku bersama Minho-hyung, aku pasti hanya diam saja. Dia kan tidak banyak bicara…” jawab Taemin seadanya. Aku tertawa. Jawabannya memang benar-benar memancing tawa, soalnya memang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Minho itu pendiam, dan Taemin bukan tipe orang yang mudah bicara. “Jiyeon ah… Nanti ajari aku bab selanjutnya, ya? Aku sama sekali tidak mengerti…” pinta Taemin. “Lagi? Taemin ah… aku sudah hampir mati bosan dengan mata pelajaran itu…” keluhku. Tapi Taemin mengedip-ngedipkan kedua matanya dan tersenyum. “Ajari aku, ya… Chebal~~” pinta Taemin, dengan suara lembut berusaha membujukku. Aigoo… Biasanya aku akan langsung luluh jika dia sudah memintaku dengan suara lembut dan kedipan mata itu. Karena itulah aku menyanggupi waktu dia memintaku mengajarinya biologi selama satu minggu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku lemah sekali pada hal-hal yang imut seperti Taemin. Dan sialnya, dia tahu bagaimana cara memanfaatkan kelemahanku itu. “Ne… Baiklah…” jawabku pelan. Taemin melonjak kegirangan dan langsung mendatangi Minho. Entah apa yang ia bicarakan dengan Minho, yang jelas, ia kelihatan senang sekali. Aku masih memandanginya saat aku menyadari Minhyo memandangiku. “Kau ini tidak tahu apa-apa, ya?” bisik Minhyo sambil nyengir. “Ha?” tanyaku balik. “Amuildo aniya… Lupakan saja…” kata Minhyo sambil mengibaskan tangannya. Ia ikut bergabung dengan Minho dan Taemin, meninggalkan aku yang kebingungan sendiri. … “Eh… Taemin… Kau ini tidak suka biologi. Tapi kenapa kau mengambil kelas ini?” tanyaku saat kami berdua berada di ruang biologi. Seperti sebelumnya, aku sedang mengajarinya. “Aku tidak bisa bilang… Mianhae~” jawab Taemin, sengaja membuat suaranya mengalun seperti music. Merdu sekali. Tapi jawabannya membuatku semakin penasaran. Aku bertemu dengan Taemin pertama kali di kelas biologi. Kami dipasangkan sebagai partner kerja. Awalnya aku tidak pernah memperhatikan Taemin. Tapi karena kebetulan sahabatku menyukai sahabat Taemin, dan Minhyo sering sekali memperhatikan Minho secara diam-diam, aku jadi ikut-ikutan memperhatikan keduanya, terutama Taemin. “Jiyeon ah… yang ini bagaimana???” Tanya Taemin, menyikut lenganku. Aku menarik text book yang terbuka di hadapan kami dan menelusuri kalimat di dalamnya. “Perhatikan dinding selnya… Antara hewan dan tumbuhan ada perbedaan, kan?” kataku, menunjuk gambar yang aku temukan di text book. Taemin mengangguk-angguk kemudian mengintip ke mikroskop. “Taemin ah…” panggilku. “Ne~~” jawabnya panjang. “Kenapa kau tidak memanggilku noona, seperti kau memanggil Minhyo?” tanyaku seraya bertopang dagu. Aku memandangi garis wajahnya yang tertutupi mikroskop. “Nanti aku tidak punya kesempatan…” jawabnya tanpa beralih dari mikroskop. Aku mengangkat sebelah alisku. “Kesempatan apa?” tanyaku. “Kenapa kau selalu memberiku pertanyaan yang tidak bisa ku jawab?” Tanya Taemin sambil tertawa. “Karena kau memberiku jawaban yang membuatku penasaran…” balasku. “Aku sudah menemukan perbedaannya! Ayo, kita lanjut ke bab berikutnya!” serunya, membalik-balik halaman text book dengan penuh semangat. Cih! Lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan. … “Jiyeon ah, mana Minhyo?” Tanya Minho begitu aku bergabung dengan mereka. Aku menoleh ke belakang dan bingung sendiri. Harusnya dia ada di belakangku. Tapi aku menemukannya sedang mengantri, lagi. “Di sana… Bukannya tadi dia sudah mengantri, ya?” gumamku, seraya duduk di depan Taemin. Aku mengambil puding di nampanku dan menyerahkannya pada Taemin “Kemarin kita bertengkar gara-gara benda ini, kan? Ini ambil.” Kataku. Taemin langsung mengambilnya dan membukanya. Dengan satu suapan besar ia menghabiskan setengah puding itu. Aku melongo saat dia mengembalikan setengahnya padaku. “Ini.” Katanya. Aku menerima sisa puding itu dengan dahi berkerut. Minhyo mencubit pipiku. “Akhir-akhir ini kau sering memasang wajah seperti itu…” bisik Minhyo sambil duduk di sebelahku. Aku menoleh padanya dan balas berbisik. “Maksudnya?” “Kau memasang wajah seakan-akan kau tertarik pada Taemin…” Aku melepas puding di tanganku. Puding itu berguling di lantai. Minho dan Taemin melihat kami berdua dengan tatapan bingung. Minhyo hanya tersenyum padaku. “Aku serius loh, Jiyeon…” kata Minhyo. Aku tidak merasa aku tertarik pada anak itu. Setidaknya itulah yang aku yakini selama ini. Tapi setelah mendengar kata-kata Minhyo tadi, rasanya aku mulai mengerti. Mungkin aku memang tertarik padanya. Tapi tentu saja hal seperti itu lebih baik aku simpan dalam hati. Lagipula, rasa tertarik itu bukan berarti aku menyukai Taemin. Aku hanya… tertarik padanya. Itu saja. … Makan siang hari itu agak berbeda. Biasanya ada Minhyo dan Taemin, tapi kali ini aku hanya bersama Minho. Minhyo mendapat tugas tambahan dari Heechul sosaeng-nim karena kebiasaannya terlambat masuk kelas-yang sialnya selalu jam pelajaran Heechul sosaeng-nim. Dan Taemin mendapat giliran piket siang itu. Jadi mau tidak mau, aku hanya makan siang bersama Minho, yang tentu saja rasanya aneh sekali. “Rasanya aneh kalau tidak ada dua orang itu…” gumamku. Minho hanya mengangguk. “Tapi ini sudah seperti kebiasaanku. Makan siang bersama kalian.” Kata Minho. “Begitu? Jadi… bagaimana hubunganmu dengan Minhyo? Kelihatannya kalian bahagia sekali…” ledekku. “Sebaiknya kau juga mulai mempertimbangkan untuk punya pacar…” kata Minho. Hei, sepertinya dia sedang balas meledekku. “Aku belum menemukan yang sesuai…” jawabku asal saja. “Tidak usah kau cari. Tunggu saja. Dia pasti akan datang padamu.” Kata Minho, menatapku penuh arti. Aku menaikkan sebelah alisku. “Oh, ya?” “Ne… Nah, itu! Dia datang…” Aku menoleh ke belakang, ke arah yang ditunjuk Minho, dan melihat… Taemin? “Mianhae… aku terlambat… Lho? Mana Minhyo-noona?” Tanya Taemin. Ia langsung duduk di hadapanku. “Detensi.” Jawab Minho, pendek. Aku masih menatap Minho dengan tatapan bingung. Dia bilang orang yang sesuai untukku akan datang dengan sendirinya. Dan saat ia mengatakan bahwa orang itu sudah datang, ternyata yang ia maksud adalah Taemin. Rasanya, Minho dan Minhyo mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. “Jiyeon ah? Kenapa melamun?” Tanya Taemin, melambai-lambai di depan wajahku. Aku menangkap tangannya dan menggigit jarinya. Taemin berteriak kesakitan dan menarik tangannya lepas dari genggamanku. “Aigoo!! Kenapa kau menggigitku??” Tanya Taemin, meringis kesakitan. “Karena kau sudah membuatku bingung.” Jawabku cuek, sambil menyantap makan siangku. Taemin melirik Minho, meminta penjelasan. Minho hanya mengangkat bahunya dan tertawa kecil. … Aku duduk di ruang kelas biologi dan menanti partner biologiku dengan sabar. Hari ini, seperti biasanya, aku dan Taemin akan belajar bersama lagi. Akhir-akhir ini, seperti Minhyo yang jadi lebih sering bersama Minho, aku juga jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama Taemin. Kami memang jadi lebih dekat, tapi hubungan kami hanya sebatas teman dan partner dalam pelajaran. Tidak lebih. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku terus memikirkan dia, ya? “Akhir-akhir ini kau sering melamun, ya?” Aku melihat Taemin datang dan tersenyum. Ia balas tersenyum, kemudian duduk di sampingku. “Akhir-akhir ini aku sering berpikir…” jawabku. “Tentang apa?” “Bukan tentang apa-apa… Jadi, hari ini apa yang ingin kau pelajari?” tanyaku. Aku memperhatikan ia membuka buku catatannya. Hari ini Taemin kelihatan lebih manis. Rambutnya sedikit lebih panjang dari saat kami bertemu pertama kali. Tapi itu cocok untuknya, membuat ia kelihatan lebih… dewasa. “Ini… Hukum Mendell…” katanya, menunjuk salah satu paragraf di buku catatannya. Aku menarik buku catatannya ke arahku dan membacanya. “Eh, Jiyeon ah…” Aku tidak menjawab karena terlalu serius membaca. Tapi kelihatannya ia tidak perlu jawabanku. Dia tahu aku mendengarkan. “Kau masih ingat kata-katamu waktu pertama kali kita bertemu di kelas ini? Waktu keponakan dari Leeteuk sosaeng-nim mengacau di kelas ini…” Aku menggigit bibirku, mencoba mengingat-ingat. Waktu itu adalah hari pertama kelas biologi yang diajar oleh Leeteuk sosaeng-nim. Dia guru yang baik dan lucu. Ia juga selalu tersenyum. Tapi keponakannya nakal sekali. Waktu itu ia membawa keponakannya ke sekolah, dan anak itu berlari-lari mengelilingi kelas sambil memencet seekor katak di tangannya. Kemudian ia menjatuhkan kotak kaca berisi mencit yang harusnya jadi bahan pelajaran kami. Akibatnya, selama satu jam kami harus mengumpulkan makhluk menjijikkan itu. Aku tertawa sendiri waktu mengingat kejadian itu. Ya, aku ingat kejadian itu. Tapi aku tidak ingat apa yang aku katakan saat itu. Jadi aku bilang ke Taemin kalau aku tidak ingat. Dia menghela nafas. “Coba kau ingat-ingat… Itu adalah jawaban dari pertanyaanmu kemarin.” Kata Taemin. “Pertanyaanku yang mana?” tanyaku. Kadang-kadang aku membenci ingatanku yang parah ini. Tapi Taemin hanya menggeleng, menolak menjawab. “Taemin ah… Pertanyaanku yang mana?” tanyaku lagi, setengah memaksa. Ia diam sebentar, kemudian membuka mulutnya untuk bicara. Aku sudah siap mendengarkan, tapi ia malah mengatakan hal lain. “Jadi, bagaimana menentukan sifat yang dominan dan resesifnya?” Aku mencibir, sebal. Hari itu, aku belajar hal lain mengenai Taemin : ia akan mengganti arah pembicaraan apabila ia tidak mau membicarakan hal yang sebelumnya menjadi topik pembicaraan. Dan ia melakukan itu dengan wajah tanpa dosa. Aku berbaring di kasurku yang super berantakan. Minhyo berbaring tengkurap di sampingku, membaca majalah. Kami baru selesai menonton film bersama dan hari ini Minhyo menginap di rumahku. Aku dan dia sering melakukan ini. Kami berdua memang dekat. “Aku senang sekali akhirnya kau bisa menginap hari ini… Rasanya selama beberapa hari ini kau hilang ditelan oleh Choi Minho…” kataku. “Mianhae… Namanya juga baru jadian… Rasanya aku ingin selalu di dekatnya…” kata Minhyo, masih membaca majalahku. Ia membalik halamannya. “Hah… aku jadi kepikiran soal kata-kata Minho tadi siang.” Minhyo berhenti membaca dan menoleh padaku. “Memangnya dia bilang apa?” “Dia bilang aku tidak perlu mencari orang yang sesuai untukku. Aku hanya perlu menunggu, dan orang itu akan datang.” Kataku. “Oh…” “Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya…” “Oppa bilang begitu karena dia tahu sudah ada orang yang sesuai untukmu…” “Masa?” Minhyo menutup majalah itu, menggulungnya, dan memukulkannya ke kepalaku. Pelan, tapi terasa sekali kalau ia sangat sebal padaku. “Ee pabo! Kau ini benar-benar tidak tahu, ya??” seru Minhyo. “Tahu apa, sih? Kelihatannya kau dan Minho mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui… Bahkan Taemin juga sepertinya mengetahui sesuatu…” “Itu karena kau kurang peka… Jiyeon ah… Cobalah untuk lebih memperhatikan sekelilingmu… Coba artikan tindakan orang itu, sekecil apapun…” kata Minhyo, kembali membuka majalah yang tergulung di tangannya. “Orang itu? Siapa?” “Aku tidak mau memberi tahumu. Cari saja sendiri…” kata Minhyo, meleletkan lidah padaku. Aku mengacak-acak rambutnya, geram. … Aku masih memikirkan kata-kata Minhyo tadi malam sehingga aku jalan tanpa memperhatikan arah depanku. Seharusnya itu tidak aku lakukan, karena aku bisa saja terlibat masalah. Ternyata aku benar. Aku menabrak seseorang. Tidak keras memang, tapi tetap saja kami bertubrukan. Dan orang itu adalah salah satu dari kelompok Barbie. Sialnya, orang itu adalah Jessica Jung, yang sebelumnya sudah membenci Minhyo karena dianggap merebut Minho. “Mianhae…” kataku. “Kalau jalan gunakan matamu!! Oh… ternyata kau… Gadis katak…” Aku membelalakkan mataku ketika ia menyebutku gadis katak. “Apa katamu?” tanyaku. Mungkin telingaku salah menangkap kata-katanya. “Gadis katak… Kau yang selalu bersama Lee Taemin di ruang biologi… Entah apa yang Taemin lihat darimu. Kalau aku sih, melihat kau cocok sekali berada di antara katak-katak mati itu…” katanya tertawa. Kelihatannya kemarahannya pada Minhyo sekarang dialihkan kepadaku, sahabatnya. “Nona Jung, hati-hati kalau bicara. Kau tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi, kan? Aku bukan cuma akan membuat pipimu memar, tapi juga akan mematahkan hidungmu yang mancung itu…” kataku geram. Jessica mundur selangkah sambil memegangi hidungnya. Kejadian waktu Minhyo memukulnya rupanya belum hilang dari ingatannya. Ia menyuruh teman-temannya untuk meninggalkan aku. “Terserah… Tapi aku tetap tidak tahu apa yang Taemin lihat darimu sampai ia betah ada di dekatmu…” kata Jessica dengan nada suara kesal. Aku tersenyum penuh kemenangan. Ternyata ada untungnya juga menggertak gadis yang peduli pada penampilan. Ia akan takut kalau kau bilang kau akan merusak wajah cantiknya. Sebenarnya aku tidak akan mau memukul hidungnya sampai patah. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah. Tapi kata-kata Jessica barusan membuatku berpikir. Apa ya, yang membuat Taemin betah berada di dekatku? Aku ini cuek, kadang-kadang bicaraku menyakitkan, tapi dia tetap bertahan di dekatku. “Annyeong, Jiyeon ah…” sapanya tiba-tiba. Oh, kebetulan sekali… Aku baru saja memikirkanmu… batinku sambil melihat Taemin yang ceria sekali pagi itu. “Aku lihat Jessica-noona bicara denganmu. Apa kau sudah berbaikan dengannya?” Tanya Taemin. “Berbaikan? Aku kan, tidak pernah punya masalah dengannya…” kataku, memasang wajah tidak bersalah. “Haha… iya… tapi biasanya dia senang mencari masalah…” kata Taemin. Ia tersenyum, manis sekali. “Taemin ah? Kenapa kau kelihatan senang sekali?” tanyaku, menyikut lengannya. “Kau tidak ingat hari ini hari apa?” Tanya Taemin. “Um… ini hari Selasa… kenapa?” Taemin mencibir. Ia mengerucutkan bibirnya yang tipis itu. “Aku juga tahu ini hari Selasa. Tertera dengan jelas di kalender. Tapi hari ini juga hari yang sangat penting…” kata Taemin. Aku berpikir lama sekali. Tapi aku tetap tidak tau ada hal penting apa hari ini. “Hari ini bukan hari ulang tahunmu, kan?” tanyaku. Taemin menggeleng, kemudian ia menggamitku masuk ke dalam gedung sekolah. “Kejadian penting hari ini adalah jawaban untuk pertanyaanmu yang pertama…” kata Taemin. Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Aku semakin pusing dibuatnya. Aku melepas genggamannya pada lenganku. “Aish… sudah cukup main teka-tekinya. Kau membuatku bingung, Taemin ah!” seruku. Taemin tertawa. Ia menahanku pergi, dan berkata pelan sekali. “Pelajaran biologinya kita sudahi, ya, Jiyeon… Sebagai penggantinya, tolong temani aku di tempat itu…” kata Taemin, setengah berbisik. Kemudian ia pergi. Tempat itu? Tempat apa yang dia maksud? “Loh? Mana Taemin?” Tanya pada jam makan siang. Meja yang biasa kami duduki hanya diduduki oleh Minho dan Minhyo. Keduanya mengangkat bahu dan menunjukku. “Dia bilang dia menunggumu di tempat yang hanya kau yang tahu di mana…” kata mereka berdua. “Ha? Tempat apa??” tanyaku balik. Minhyo menggeser duduknya lebih dekat denganku. “Dia bilang kau pasti tahu…” “Aigoo… Teka-teki lagi? Dia tahu kalau ingatanku ini buruk!!!” seruku kesal. “Jiyeon ah… Sebenarnya aku penasaran… Tapi apa kau tahu alasan sebenarnya dia yang membenci biologi mau mengambil kelas itu? Dan kenapa dia tidak memanggilmu noona seperti dia memanggil gadis lain di sekolah ini?” Tanya Minho. Aku menggeleng. “Aku juga menanyakan hal itu padanya. Tapi dia menolak menjawabnya.” Kataku. “Itu semua karena hal-hal yang pernah kau katakan. Meskipun kau tidak secara langsung mengatakan hal itu kepadanya, tapi itu berpengaruh pada Taemin.” Aku mengerutkan dahi. Benar-benar bingung. “Aku akan mencarinya.” Kataku seraya berdiri. Sepasang kekasih itu hanya melambai padaku, memberi semangat. Aigoo… rasanya ingin aku gigit mereka berdua. Aku berlari tanpa tujuan, karena aku tidak tahu ke mana harus mencari. Aku berjalan sambil menunduk, berpikir keras mengingat hal-hal apa saja yang pernah aku katakan kepadanya. Karena aku menunduk, lagi-lagi aku menabrak seseorang. Laki-laki itu membawa setumpuk buku dan aku sudah membuat buku-buku itu jatuh berantakan. “Mianhae…” seruku, berlutut dan membantu laki-laki itu memunguti buku-bukunya. “Gwenchanna…” jawabnya seraya tersenyum. Aku balas tersenyum, dan mengambil buku lain untuk aku kumpulkan. Text book biologi. Kemudian aku teringat sesuatu… Flashback Aku memperhatikan anak itu. Ia berlutut di antara kerumunan siswa yang sedang menentukan kelas-kelas yang akan mereka ambil. Ia sedang memunguti buku-bukunya yang berceceran. Kelihatannya tasnya sobek, sehingga buku-buku yang ia bawa berjatuhan. Tapi kenapa tidak ada yang membantunya? Aku ikut berlutut di depannya dan membantunya mengumpulkan buku-bukunya. Tanganku terulur dan mengambil sebuah buku : Text Book Biologi. “Wah… kau mengambil kelas biologi?” tanyaku. Dia menggeleng pelan. Aih, wajahnya manis sekali. “Sayang sekali… Aku berpikir untuk mengambil kelas ini… Pasti menarik… Tapi tidak ada orang yang aku kenal di kelas itu…” Dia masih memandangku. “Kuharap aku bisa dapat partner biologi yang menyenangkan…” kataku, tersenyum dan menyerahkan buku itu kepadanya. Ia tersenyum dan kami berdua berdiri. “Gomawo…” katanya. Kemudian berbalik dan pergi. end of flashback “Mianhae… buku itu…” Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata aku masih memegang buku milik laki-laki yang kutabrak tadi. Ia kelihatan bingung melihatku memandangi buku itu. “Ah… mianhae…” kataku buru-buru dan menyerahkan buku itu kepadanya. “Hehe… Gomawo…” kata laki-laki itu. “Ya!!! Jinki!! Palliya!!” teriak laki-laki lain dari ujung koridor. “Ne, Kibum ah…” Aku memperhatikan keduanya hingga keduanya menghilang di belokan koridor. Aku tersenyum. Aku tahu jawaban dari pertanyaan pertamaku. Dan mengenai jawaban dari pertanyaan kedua… pasti ada hubungannya dengan tempat itu. Tempat di mana Taemin sedang menungguku. Aku bergegas ke tempat itu, membuka pintunya, dan memanggil Taemin yang sedang duduk termenung di dalamnya dengan suara keras. “Taemin ah!!!” “Kau datang!” serunya sambil tersenyum. Aku masuk ke ruang biologi itu dan menutup pintunya. “Aku… sudah ingat… jawaban pertanyaanku yang pertama… Dan pertanyaan yang kedua…” Flashback “Lho? Kau bilang kau tidak mengambil kelas biologi?” tanyaku ketika melihat anak laki-laki itu duduk di sampingku. Dia hanya tersenyum, wajahnya memerah karena malu. Aku mengulurkan tanganku dan memperkenalkan diri. “Hwang Jiyeon… Kau?” “Lee Taemin…” “Taemin sshi… Mohon bantuannya selama semester ini…” kataku. Ia mengangguk dan tersenyum. Lalu guru biologi kami masuk, bersama anak kecil. Anak itu kelihatan tenang, tapi ternyata dia nakal sekali. Ia menyiksa katak-katak percobaan itu dengan memencet-mencet perutnya. Berlari mengelilingi kelas, dan terakhir, ia menjatuhkan kotak kaca berisi mencit percobaan. Makhluk putih itu berkeliaran di dalam kelas, dan kami diminta mengumpulkannya kembali. “Aish… aku benci anak kecil… Mereka itu susah sekali diatur…” kataku. “Aku juga lebih muda dari semua siswa di sekolah ini…” gumam Taemin. Aku menoleh padanya. “Oh, ya?” “Kau juga benci pada yang lebih muda?” Tanya Taemin dengan wajah serius. Aku mengerucutkan bibirku. “Yah… kadang-kadang…” Saat itu aku bersumpah aku bisa melihat senyuman di bibirnya menghilang perlahan. “Taemin ah… Apa maksudnya semua ini??” tanyaku, duduk disampingnya. “Kau bilang kau membenci orang yang lebih muda… Karena itu aku tidak memanggilmu noona. Karena aku tidak mau kau membenciku… Aku tidak mau kehilangan kesempatanku…” Aku tersenyum. “Aku juga tidak pernah menyukai pelajaran ini. Aku tidak pernah menyukai ruangan ini. Tapi kau berharap mendapatkan partner biologi yang menyenangkan. Jadi aku berusaha mewujudkan harapanmu, dengan menjadi partner biologi yang menyenangkan untukmu…” “Tapi untuk apa semua itu?” “Kau ingat, waktu tas ku sobek? Tidak ada satupun yang berlutut dan ikut membantuku, padahal waktu itu aku kerepotan. Aku belum mengenal Minho-hyung waktu itu, dan teman-temanku tidak peduli, mereka sibuk mengomentari kelas-kelas yang harus kami ambil. Tapi kau, yang tidak mengenalku sama sekali, langsung membantuku dan mengajakku bicara. Aku benar-benar… sangat tertolong waktu itu…” “Hanya karena itu?” tanyaku. “Sebenarnya… aku langsung menyukaimu saat itu. Dan sejak saat itu, aku meyakinkan diriku, untuk terus berusaha membuatmu senang. Aku senang sekali waktu melihat wajah bahagiamu di kelas biologi, meskipun aku sendiri bergidik melihat hewan-hewan malang itu dibedah…” “Apa Minho dan Minhyo sudah tahu soal ini?” tanyaku. “Mereka tahu dari caraku memperlakukanmu, chingu… Tapi kau itu sama sekali tidak peka…” keluh Taemin. “Mianhae… sudah membuatmu susah…” kataku pelan. “Gwenchanna… Aku juga senang melakukan ini…” “Senang mengikuti kelas biologi?” pancingku, meliriknya dengan senyum nakal. “Aigoo… kalau itu… aku masih harus mencoba…” Kami berdua tertawa bersamaan, kemudian terdiam. Suasana jadi kikuk sekali. Tapi entah kenapa, aku suka suasana ini. Di ruangan ini. “Jiyeon ah… Aku tidak pernah menyukai biologi… tapi aku menyukaimu… Tidak apa-apa, kan?” Tanya Taemin. Ia tidak menatapku. Ia sibuk memainkan mikroskop di depannya. Aku tahu dia gugup. Jadi aku meraih tangannya. “Aku juga tidak pernah menyukai orang yang lebih muda… Tapi kalau itu partner biologiku, aku rasa tidak apa-apa…” kataku. Ia tersenyum padaku. Manis sekali. Ia membuka mulutnya, ingin bicara. Tapi suara ceklikan kamera membuat kami berhenti dan menoleh ke pintu masuk. Minho dan Minhyo, yang sedang mengarahkan kameran ponselnya ke arah kami, sudah berdiri di sana. Keduanya tersenyum nakal. “Balas dendamku karena waktu itu kalian mengganggu kami!” seru Minhyo, kembali mengambil foto kami berdua. Aku berdiri dan mengejar Minhyo, yang langsung kabur membawa kameranya. “Minhyo ah!!!!” “Gyaaa~~!!”

1 komentar: